Journey

Karantina AFI (Covid-19) Hari ke-7

Sudah seminggu sejak karantina AFI (Antek Funky Indonesa) berlangsung, kalo boleh menambahkan jokes konsisten Mz Ray katanya “Hari ke-7 self-quarantine, sudah bosan makan opor”.

Sebenernya sama aja sih, orang juga selama ini aku cuma di kontrakan hahaha cuman berdasarkan prosedur khalayak umum yang pada mulai work from home dari hari senin, mulai hari itu juga kondisi makin buruk, yaudah aku bener-bener nggak keluar kalo nggak beli makanan aja. Eh kecuali kemarin lusa ding, keluar buat say goodbye ke temen yang mau balik ke negaranya, udah itu doang.

Hari ke-2 apa 3 lupa, udah gabut banget akhirnya ngerekam podcast review buku buat Mendadak Podcast. Dibikin program baru, entar diupload kalo emang lagi kepikiran upload hehe

Temenku karena sangking gabutnya, baru hari ke-5, dia nge-tatto temennya pake handpoke dong. Aku udah bisa bayangin hari ke sekian ratus self-quarantine dia udah bisa menggambar rancangan Candi baru.

Kemarin aku stock bahan masak Wave.02 setelah Wave.01 beli mie buanyak. Tapi begitu sadar pentingnya tetap sehat walaupun cuma di kontrakan, akhirnya memutuskan untuk selanjutnya mending beli sayur aja. Jatuhnya bisa lebih murah juga, walaupun masaknya butuh waktu lebih lama.

Semalem mau ke Indomaret tapi ambil jalan yang lebih jauh dari biasanya, sambil lihat jalanan yang sepinya minta ampun, dan lihat penjual angkringan pada sepi. Ngelihat sekitar sambil naik motor bikin sedih sendiri, penjual-penjual yang malem hari biasanya rame jadi sepi banget. Jalan gede Pedaringan yang nggak pernah sepi, waktu itu cuma aku satu-satunya kendaraan melitas di sepanjang jalan. Sembari muter, mata setengah berkaca-kaca, segini teganya ya ni virus.

Hari ini bangun-bangun bersyukur, sebagai desainer, bisa banget kerja di rumah dan bersyukur masih bisa dikasih rejeki dengan kondisi kaya gini.

Begitu bangun-bangun bersyukur, ehhhh grup keluarga Blitar rame tuh. Katanya Mbah Putri susah dibilangin tante buat nggak keluar rumah dulu. Beliau masih mau dateng ke acara yasinan yang mana dihadiri sekian puluh orang ibu-ibu, dengan dalih sungkan sama yang punya rumah dan beliau imam pengajian. Beliau kekeuh, katanya nanti ngajinya nggak usah salaman dan pake masker aja biar ngga ketularan……. wadidaaww. Mana aku sebenernya juga pengen banget pulang Blitar, cuma masalahnya aku malah takut jadi carrier dan nularin orang di sekitar rumah yang lumayan didominasi usia yang rentan kena. Jadinya ya emang lebih baik di Solo dulu.

Walaupun sebenernya di Solo lumayan makin mencekam, area Mojosongo ada kampung yang diisolasi dan nggak boleh dilewatin karena ada yang positif (atau masih suspect?) dan besar kemungkinan banyak yang tertular di area itu.

Awal-awal kasus ini, aku nggak panik sama sekali. Karena ya aku kira paling cuma di kota-kota besar, tapi sejak denger kabar ada pasien meninggal ke-2 di Moewardi, yang mana cuma sekian ratus meter dari sini, aku mulai take it seriously(tapi nggak panik) dan langsung cancel semua penerbangan buat liburan bulan ini dan bulan depan setelah minta saran ibuk soal kondisi sekarang.

Mana laptopku rusak lagi dan masih diservis pula, ini aja lagi minjem laptop Mega buat ngerjain desain :/

Anyway, i have nothing to wish than this shit could end up super soon.

If you read this, please take care of yourself and people around you. Be grateful if you still healthy, but please be careful with your surroundings. Think as if you’re the healthiest carrier of this disease, and didn’t want to spread it to others. Xoxo

Share this post to your friends!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *