Category Design

Desainer (Omong) Kosong

The Life of a designer is a life of fight. Fight against the ugliness. Just like doctor fights against disease. For us, the visual disease is what we have around, and what we try to do is to cure it somehow with design – Massimo Vignelli, on Helvetica Documenter

Betapa beratnya istilah Vignelli untuk menyandingkan profesi desainer dengan dokter, yang memiliki peran krusial dalam menangani nyawa sepertinya belum bisa disandingkan dengan desainer.

Desainer bukan segalanya, sebagai contoh; jika ada brand/produk yang memang bagus, peran desain hanya memoles apa yang sudah bagus. Dengan absennya desain dalam produk yang bagus, tidak akan berdampak banyak jika memang si empunya produk bisa memasarkan dengan baik.

Desain bisa juga berbohong, produk yang jelek bisa dipoles sedemikian rupa hingga orang tertarik untuk membeli, memberikan kesan pertama bagus. Pada kasus seperti ini produk mungkin akan meledak di awal tapi ketahanan produk di pasar ditentukan kualitas dari dalam.

Jika dikaitkan dengan profesi seorang dokter sepertinya menjadi sebuah kebalikan, dokter bekerja untuk memperbaiki apa yang salah dalam tubuh kita, sedangkan desainer bekerja bagian luarnya. Bagian luar mungkin baik untuk kesan pertama, tapi bagian dalam yang menjadi faktor utama penentu keberlanjutan usia.

Walau demikian, saya masih optimis quotes Massimo Vignelli diawal tulisan ini. Dokter dahulu reputasinya kalah dengan mantri(in negative way) atau dukun, seiring berjalannya waktu manusia mulai teredukasi, mempercayai sains dan lebih mempercayai dokter dibanding “mantri-mantrian” atau dukun. Dibalik pilihan lebih murah dan ‘yang penting sembuh’ sebenarnya ada hal lain yang memberikan garansi lebih dengan jaminan ilmu pengetahuan, dalam konteks ini dokter tentunya.

Jika sekarang orang-orang masih menganggap desain sebagai sesuatu ‘yang penting jadi’ ‘yang penting murah’ saya masih bisa optimis kelak bisa berubah ketika semua orang sudah teredukasi soal estetika dan desain. Dimana desain bisa diapresiasi dan bekerja sebagaimana mestinya. Di Indonesia terutama.

Salah satu pendeskripsian seorang desainer melalui kacamata sejarah yang paling saya suka datang dari penulis Design as Art, Bruno Munari. Dalam bab What is a Designer di jelaskan bahwa desainer adalah penjembatan insinyur dan seniman, Insinyur dengan form follow fuction dan seniman dengan estetikanya. Munari mencontohkannya dengan mesin jahit, dahulu kita memiliki mesin jahit yang diciptakan seorang insinyur dan didekorasi oleh seniman dengan emas dan mutiara. Ini saat dimana desain belum muncul ke permukaan, masih ada istilah seni terapan pada seni komersil. Munari menegaskan bahwa desainer adalah seniman hari ini, seniman yang bisa mengkoneksikan seni dengan kebutuhan publik.

Ketika masa awal kuliah, saya berfikir jika desainer yang berperan besar membuat sebuah mastepiece besar. Seolah peran marketing, customer service, sales, dan lain-lain tidak begitu penting, dalam hal ini saya salah besar. Saya lupa juga kalau banyak desainer terkatung-katung karena bingung menjual desainnya, padahal desainnya saya akui bak mahakarya Picasso. Karya bagus akan terjual dengan sendirinya itu bullshit, jika memang tidak ada faktor keberuntungan yang sangat besar, atau tidak ada strategi yang tepat dan usaha yang sepadan.

Menyadari bahwa saya sendiri untuk eksekusi desain kalah jauuuh dengan teman-teman saya, ada masa diawal perkuliahan saya capek melihat karya saya yang tidak berprogress, mungkin hal ini yang tidak saya antisipasi dari awal, yang membuat saya minder parahhh. Ditambah lagi saya tidak pernah memiliki nilai bagus di kelas praktik menggambar, untungnya disaat seperti itu saya tertolong dengan menemukan sekaligus mulai jatuh cinta dengan desain yang memiliki konsep. Tidak hanya merancang luarnya, tapi mengkoneksikan pesan dengan eksekusi yang brilian. Shout out Pentagram dan Sagmeister and Walsh saat itu.

Peranan desain lagi-lagi soal mengkoneksikan sesuatu, mungkin ini juga jawaban dari apa yang dikatakan Jessica V Walsh di salah satu seminar yang saya temukan di Youtube. Jessica mengutarakan bahwa kreativitas adalah “…Unique and interesting connections between things.”

Jika bisa ditarik garis yang sama dari statement Massimo Vignelli, Bruno Munari, dan Jessica V Walsh, desainer memang dituntut kreatif secara visual, kerja otak dan tentunya sinergi yang baik oleh orang-orang yang berperan dalam satu ekosistem kreatifitas tersebut. Karena visi desain adalah mengkoneksikan, menghubungkan, sebagai penjembatan, bukan hanya sebagai seni visual, bukan pula untuk mendominasi dan menyombongkan diri sebagai bagian terpenting. Hal krusial tersebut yang menentukan apakah sebuah desain memiliki nyawa atau hanya kosong belaka.

Share this post to your friends!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *