Journey

Cerita Angker

Sepulangnya dari Thailand, aku beberapa kali merasa kehilangan teman. Faktor utamanya karena memang sudah semester tua, jadi sudah pada sibuk menata kehidupan masing-masing dan menyelesaikan studi secepatnya. Selain itu, mungkin karena memang sudah nggak ada tempat untuk kumpul semacam basecamp, dimana sebelumnya kami punya satu kontrakan bernama Angker yang jadi titik kumpul dan titik gabut selama kuliah. Terutama untuk DKV ISI Surakarta angkatan 2014.

Angker jadi satu-satunya tempat yang selalu ada teman-teman 24 jam, setiap saat kami bingung mau kemana dan mau apa, Angker jadi jajaran Top of Mind. Karena kalau gabut kemudian datang ke Angker, beberapa teman yang mau ke satu event pasti mengajak atau sekedar memberi info ada acara di sini dan di sana. Yup, selain menjadi sarang manusia, Angker cukup bisa dikatakan jadi sarang informasi event, dan kabar terbaru lainnya. Uniknya, selalu saja ada orang, sementara beberapa pergi ke sana-sini, pasti selalu ada yang berjaga di Angker.

Beberapa kali ketika kos aku masih di area yang nggak jauh dari sana, sepulang dari acara lain diluar keperluan kuliah jam 1 atau 2 pagi, aku selalu nyempatin lewat Angker dan selalu saja ada orang di depan kontrakan atau seenggaknya beberapa motor masih parkir di luar.

Sangat disayangkan, dibalik kesan gabut bersama, sesungguhnya banyak sekali ide dan semangat-semangat kuliah ditularkan ketika berkumpul di sana. Lebih enaknya lagi, terkadang ada makanan gratis atau memang ada agenda masak bersama, membantu sekali untuk teman-teman yang di kos tidak ada dapur atau memang malas masak dan ada yang sedang rajin-rajinnya masak.

Tapi yang sudah-sudah memang enaknya(sedih) cuma buat dikenang 🙂

Share this post to your friends!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *